Manfaat Arang Bambu

Pernah mendengar arang bambu?bagi yang belum tahu, arang bambu berasal dari potongan-potongan bambu limbah dari kerajinan mebel dan penganyaman gedhed yang diolah menjadi arang bambu yang ternyata punya nilai ekonomi yang menggiurkan.Anda pasti tidak pernah membayangkan bahwa limbah bambu yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, bisa disulap menjadi barang unik sekaligus menarik dan memiliki banyak kegunaan yaitu Arang bambu, dan bila kita jeli, arang bambu bisa menjadi peluang bisnis yang berprospek cerah. Berikut adalah manfaat arang bambu :

1. Membuat nasi pulen
2. Menambah kandungan mineral pada air dan menetralisir zat-zat berbahaya pada air
3. Menjernihkan minyak goreng
4. Mengurangi radiasi pada komputer dan televisi
5. Menghilangkan bau pada kulkas
6. Menghilangkan bau apek pakaian pada almari
7. Menyerap bau rokok pada ruangan

Sungguh luar biasa manfaat arang bambu bukan? Membuat arang bambu, pada prinsipnya sama seperti membuat arang kayu. Sedikit pembedanya pada cara agar arang yang dihasilkan mempunyai multiguna. Ada dua bentuk arang bambu : keping dan bumbung. Untuk bentuk arang keping yang diproduksi Omah Areng, ukuran panjangnya 10 cm, lebar 5 cm. Sedangkan bentuk bumbung, panjang 10 cm dan berdiameter 7 cm. Bambu yang sudah dipotong sesuai ukuran, dibersihkan. Setelah itu
dimasukkan oven atau tungku pembakaran. Oven terbuat dari drum.
Proses pembakaran sangat menentukan bagus dan tidaknya hasil. Dalam proses ini api dijaga betul derajat kepanasannya. Jangan sampai padam sebelum proses pembakaran sempurna. Arang yang bagus itu jika dalam proses pembakaran bisa mencapai kepanasan minimal 150 derajat celcius. Jika bisa melebihi angkat itu tentunya untuk arang akan lebih bagus lagi. Untuk menjaga stabilnya api, setiap setengah jam dilakukan kontrol dengan termometer. Proses pembakaran untuk mencapai angka 150 derajat membutuhkan waktu sekitar 10 jam.

Pengawetan Tradisional

Yang dimaksud dengan pengawetan tradisional di sini adalah praktik dan perlakuan terhadap yang dilakukan olah masyakat secara turun temurun yang bertujuan untuk meningkatkan masa pakai bambu. Berbagai cara pengawetan tersebut diantaranya berupa:

penebangan bambuPengendalian waktu tebang. Adalah pengawturan waktu penebangan bambu pada saat-saat tertentu yang menurut kepercayaan atau kebiasaan masyarakat dapat meningkakan daya tahan bambu dibandingkan dengan penebangan pada sembarang waktu. Pengendalian waktu tebang di Indonesia ada banyak versi, diantaranya:

    penebangan pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu.
    penebangan pada jam tertentu, misalnya penebangan dilakukan pada waktu menjelang subuh dipercaya dapat meningkatkan ketahanan bambu.
    Penebangan pada waktu tertentu, misalnya penebangan pada waktu bulan purnama dibeberapa daerah dipercaya dapat mengurangi serangan hama pada bambu.

Perendaman bambu, bambu yang telah ditebang direndam selama berbulan-bulan bahkan tahunan agar bambu tesebut tahan terhadap pelapukan dan serangan hama. Perendaman dilakukan baik di kolam, sawah, parit, sungai atau di laut.penebangan waktu pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu. Kelemahan dari sistem ini adalah, bambu yang direndam dalam waktu lama, ketika diangkat akan mengeluarkan lumpur dan bau yang tidak sedap, akan butuh waktu yang cukup lama setelah perendaman untuk mengeringkan hingga bau berkurang dan dapat dipakai sebagai bahan bangunan.

Pengasapan bambu, selain pengendalian waktu penebangan dan perendaman, secara tradisional bambu juga kadangkala diasap untuk meingkatkan daya tahannya. Secara tradisional bambu diletakkan di tempat yang berasap (dapur atau tempat pembakaran lainnya), secara bertahap kelembaban bambu berkurang sehingga kerusakan secara biologis dapat dihindari. Saat ini sebenarnya cara pengasapan sudah mulai dimodernisasi, beberapa produsen bambu di Jepang dan Amerika Latin telah menggunakan sistem pengasapan yang lebih maju untuk mengawetkan bambu dalam skala besar untuk kebutuhan komersil.

Pencelupan dengan kapur. Bambu dalam bentuk belah atau iratan dicelup dalam larutan kapur (CaOH2) yang kemudian berubah menjadi kalsium karbonat yang dapat  menghalangi penyerapan air hingga bambu terhindar dari serangan jamur.

Pemanggangan/pembakaran. Biasanya dilakukan untuk meluruskan bambu yang bengkok atau sebaliknya. Proses ini dapat merusak struktur gla yang ada dalam bambu membentuk karbon , sehingga tidak disenangi oleh kumbang atau jamur.

BRIKET BAMBU

Masyarakat Indonesia sangat familiar dengan bambu. Bambu sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan karena memiliki banyak keuntungan antara lain harganya yang relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lainnya, selain itu bambu juga mudah ditemukan di sekitar pemukiman. Pemanfaatan bambu dalam jumlah banyak/besar akan menghasilkan limbah bambu yang besar pula seperti sisa bahan bangunan, sisa kerajinan dan lain sebagainya. Selama limbah bambu hanya dibuang ke lingkungan, padahal limbah bambu ini merupakan kategori biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada pembuatan briket. Dengan pertimbangan sebagai energi alternatif, briket dari bahan dasar limbah bambu dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan tentunya juga memiliki nilai ekonomis.
Briket arang merupakan suatu perubahan bentuk curah menjadi bentuk padat yang di hasilkan dari komponen penyusunya yang di sertai dengan panas dengan pengempaan yang tinggi (bj 1 – 1,2). Bambu betung dapat digunakan sebagai bahan baku briket arang mengingat bambu relatif murah di bandingkan bahan lain karena banyak di temukan disekitar pemukiman dan menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan. Pembuatan briket arang dapat menggunakan perekat tapioka dimana perakat ini umum digunakan karena menimbulkan asap yang relatif sedikit dibandingkan perekat lain serta banyak terdapat dipasaran dan hargax relatif murah.
Salah satu cara pembuatan briket arang yaitu bahan baku di arangkan terlebih dahulu kemudian ditumbuk atau digiling, kemudian di campur perekat dengan perbanding tertentu setelah itu dicetak dengan cara pengempaan yang tinggi agar menhasilkan briket yang bermutu baik.
Pembuatan briket bambu didahului oleh proses pirolisis selama 5 jam dengan suhu mencapai 5000C.
Perekat yang digunakan untuk menghasilkan briket yang bermutu baik sebanyak 4% karena menghasilkan kadar air, kadar abu dan nilai kalor yang memenuhi standar SNI 01-6235-2000.

Hebat ya, selain ramah lingkungan, arang briket yang dihasilkan juga bernilai ekonomi karena dapat menekan pengeluaran keluarga.  Arang briket yang dihasilkan juga fungsional karena selain untuk memasak, dapat juga digunakan untuk menjernihkan air dan menghilangkan bau tak sedap pada lemari dan kulkas.





Update Terbaru

Catatan Sumber: Sebagian informasi, referensi dan artikel yang disajikan di website ini kami kompilasi, sadur dan terjemahan dari berbagai sumber. Beberapa gambar yang ada juga berasal dari berbagai website dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Mohon maaf jika ada gambar yang belum mencantumkan sumbernya. Jika ada gambar milik anda yang memiliki hak cipta dan ingin dicantumkan sumbernya, harap hubungi kami.
Diberdayakan oleh Blogger.